“Ga fun menurut kamu, menurutku fun”, gumamku dalam hati.
Fun itu relatif. Bergantung pada pemaknaan kita terhadap apa yang sedang terjadi pada kita atau apa yang sedang kita kerjakan pada saat itu.
If you don’t agree with my opinion, it’s never mind couse we have different thought. Therefore, you could say or speak about your opinion and I’m too in this debate.
Dalam hidupku, fun kalau aku bisa menyelesaikan tugasku dengan benar. Bukan bersenang-senang sebelum tugas itu selesai, itu buatku refresh. Tapi, tetap saja pribadiku bukan yang demikian. Aku berujar, “aku hampa dalam keramaian”. Itu bukan keinginanku. Seperti bukan pilihan, itu adalah takdir yang diikutsertakan dalam kepribadian yang bertengger dalam jiwaku. Nah, bukan berarti aku juga ga bisa berada di dalam keramaian itu sendiri. Sesekali bolehlah, tapi pun tidak dalam jangka waktu yang lama. Setidaknya sampai batas kehampaan itu akan datang. Sehingga, tidak ada itu istilah hampa dalam perjalanan waktu yang sedang menari-nari indah di atas panggung sandiwara hidupku.
Jadi, kalau mau hidup bersamaku tolong jangan egois dengan mengatakan ini itu yang justru negatif buatku. Dampaknya, ya kamu sendiri yang merasakan. Sebaliknya, ketika kamu menjaga etiket untuk tidak beregois dengan jiwaku, aku pun akan berlaku sama denganmu. Sehingga keseimbangan itu pun tercipta. Namun memang, hal itu tidak melulu dapat tercapai serta merta tanpa usaha panjang. Oleh karena itu, tak sia-sialah bila sedikit meluangkan waktu untuk melatih diri demikian.
Aku dan kamu sama. Sama-sama manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf. Jadi, ayug bersama-sama kita melatih diri untuk menghadapi ini bersama-sama. Melatih hati dan jiwa untuk bisa saling memahami dan mengerti sisi jiwa yang lain. Karena satu itu adalah perwujudan dari beberapa hal yang menyatu. Bila salah satu memiliki kadar yang tak seimbang dengan yang lainnya, maka akan terjadi yang disebut sebagai krisis (labil). Karena di dalam komposisi jiwa ada salah satu atau lebih aspek yang tidak terpenuhi secara sempurna atau mendekati sempurna.
Sesuatu itu bukan tidak mungkin apabila kita mempunyai iktikad untuk dapat merealisasikannya. Dan jangan mudah mengeluh serta su’udzon, terutama kepada Dzat Yang Maha Agung, karena Allah swt bersama prasangka umatnya. So, Let’s go to the car and explored this pleasant world!
Back to the topic...
Intinya tuch ini semua bergantung pada bagaimana kita memberikan makna pada apa yang sedang terjadi pada diri kita (yang berimplikasi pada bagaimana kita menghadapinya) dan bagaimana kita akan memberikan makna pada setiap kegiatan yang sedang kita kerjakan saat ini. Karena sesuatu itu berharga dan menyenangkan. (Because they had their respective meaning).
Have a nice day and have fun this day J
Embun, 15 Maret 2012 08:45